Penyebab Akhir-akhir ini Bandung Panas

  komentar


Pantesan akhir-akhir ini suhu terasa sangat panas, apalagi di Bandung jarang-jarang udara terasa panas seperti saat ini. Kemarin-kemarin suhu ruangan di kamar saya sekitar 31-32 C padahal biasanya sekitar 28 C. Wew ada kenaikan sekitar 3-4 C. Ternyata setelah baca koran tadi pagi akibat dari angin di Khatulistiwa yang berputar-putar saja sehingga udara dingin dan udara panas tidak mengalir sebagaimana mestinya. Berikut ini artikel yang saya ambil dari koran pikiran rakyat.

Memasuki pancaroba, ketika angin hanya berputar-putar di atas khatulistiwa, cuaca panas menyerang beberapa wilayah Indonesia, termasuk Kota Bandung sejak seminggu terakhir. Temperatur bisa melonjak dari rata-rata 28 derajat Celsius menjadi 33 derajat Celsius pada titik tertinggi di tengah hari. Meski terasa sangat menyengat, kekhawatiran berlebihan diharapkan tak muncul. Alasannya, belakangan ini beredar pesan singkat yang menyebutkan cahaya matahari yang menyengat itu bakal menyebabkan kanker kulit.

Profesor Riset Astronomi pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengungkapkan, periode Maret hingga Mei nanti merupakan musim pancaroba karena arah angin beralih. Semula, pada periode musim hujan (Desember-Februari), angin berembus dari belahan utara khatulistiwa. Kemudian, angin berembus dari arah sebaliknya pada Juni-Agustus nanti. "Selama masa perubahan inilah angin berputar-putar saja di atas khatulistiwa," ucap peneliti yang mengkhususkan diri pada hubung-an antara Matahari dan Bumi tersebut, ketika dihubungi, Kamis (22/4) malam.

Karena angin berputar-putar saja di atas khatulistiwa, tidak terjadi pendinginan alami yang selalu dibawa angin ketika berembus baik dari arah utara maupun dari arah selatan. Pemanasan menjadi lebih intens karena pada saat yang sama matahari masih berada di dekat ekuator.

Menurut dia, pemanasan saat ini terjadi juga akibat lipatan awan yang terbentuk di langit cenderung berkurang. Salah satu penyebabnya adalah efek El Nino yang belum benar-benar habis hingga saat ini. Karena lipatan awan berkurang, sinar matahari yang jatuh ke bumi menjadi lebih intens.

Selain arah angin dan lipatan awan, kenaikan temperatur juga tak lepas dari kondisi lingkungan lokal. Alih fungsi lahan yang masif di kota-kota besar, termasuk Bandung, amat berpengaruh pada terus meningkatnya temperatur. Kawasan hijau berubah menjadi belantara bangunan yang menyerap panas. Polusi dari kendaraan bermotor juga memberi andil. "Volume kiriman karbon dioksida ke atmosfer terus bertambah. Padahal, sifat karbon dioksida menyerap panas," ucap Thomas.

 

Kanker

Kenaikan temperatur yang cenderung ekstrem sepekan terakhir membuat sebagian masyarakat gelisah. Apalagi, pada Kamis (22/4), satu pesan singkat menyebar. Intinya, sang pengirim mengajak masyarakat untuk waspada terhadap cuaca yang sangat panas pada empat hari ke depan.

Di dalam pesan itu disebutkan pula agar masyarakat tak mengenakan baju warna hitam. Alasannya, kenaikan suhu mencapai empat derajat dan berpeluang menyebabkan kanker. Menurut Thomas, ada perbedaan mendasar antara pemanasan sepekan terakhir dengan alasan penyebab kanker kulit. Kanker dimungkinkan oleh sinar ultraviolet berlebih yang diterima kulit rentan secara intens.

 

Liat tulisan saya Tips Mengatasi Udara Panas Dalam Rumah Tanpa AC

sumber : pikiranrakyat





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer